Obat HIV Anak

Infeksi HIV AIDS pada bayi dan anak-anak umumnya didapatkan dari ibu yang sudah terinfeksi virus selama kehamilan, saat persalinan normal dan menyusui. Perlakuan untuk ibu hamil yang terinfeksi virus terhadap janin dan anak memang harus sangat diperhatikan dan diberi obat hiv yang tepat. Penyebab lain yang bisa membuat bayi dan anak terkena HIV AIDS adalah seperti transfusi darah, jarum suntik dan hubungan lain.

Berikut ini beberapa ciri-ciri HIV AIDS pada bayi dan anak-anak:

  1. Pertumbuhan Badan yang Buruk
  2. Perkembangan Lambat
  3. Sering Kejang

Diagnosis Klinis Tunggal

Dalam situasi sulit dokter biasanya menggunakan diagnosa dasar klinis untuk memulai pengobatan vaksin yang bernama vaksin ARV pada anak berusia kurang dari 18 bulan dan anak yang terpapar HIV namun sedang berada dalam kondisi sakit berat.

Penegakan kepastian diagnosis berdasarkan gejala klinis yang dikombinasikan dengan pemeriksaan sel darah putih CD4 atau parameter lain yang saat ini belum terbukti secara 100% efektif dijadikan sebagai acuan alat diagnosis infeksi virus

Pemberian vaksin ARV Untuk bayi dan anak yang berumur kurang dari 18 bulan yang berada jauh dari tempat uji virologik tidak akan mungkin dilakukan, karena terdapat gejala yang tidak bisa disugestikan bahwa itu adalah infeksi virus HIV, maka diagnosis tanpa melihat pasien langsung yang terinfeksi virus HIV ini pun secara klinis dapat dibuat.

Diagnosis infeksi ini dapat menjadi dasar untuk menilai dalam pemberian vaksin.

Pada anak yang berumur lebih dari 18 bulan dengan gejala dan tanda yang disugestikan terinfeksi virus HIV, dapat menggunakan pemeriksaan antibodi untuk menegakkan kepastian

Diagnosis yang dilakukan tanpa melihat pasien langsung pada kondisi ini tidak dianjurkan dan jarang dilakukan kecuali terpaksa, karena pemeriksaan antibodi saja dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis. Beberapa kondisi gejala seperti diare, radang usus, radang selaput otak jarang terjadi pada anak yang tidak terinfeksi HIV.

Anak yang berusia kurang dari 18 bulan dengan hasil uji antibodi positif terinfeksi virus HIV termasuk di antaranya yaitu anak yang sudah benar-benar terinfeksi dan anak yang tidak terinfeksi tetapi masih membawa sel genetik dari Ibunya.

Imunisasi

Seorang anak dengan infeksi HIV atau diduga dengan infeksi HIV tetapi belum menunjukkan gejala, harus diberi semua jenis vaksin yang diperlukan (sesuai jadwal imunisasi nasional), termasuk BCG. Berhubung sebagian besar anak dengan HIV positif mempunyai respons imun yang efektif pada tahun pertama kehidupannya, imunisasi harus diberikan sedini mungkin sesuai umur yang dianjurkan.

– Jangan beri vaksin BCG pada anak dengan infeksi HIV yang telah menunjukkan gejala.

– Berikan pada semua anak dengan infeksi HIV (tanpa memandang ada gejala atau tidak) tambahan imunisasi Campak pada umur 6 bulan, selain yang dianjurkan pada umur 9 bulan.

Pencegahan dengan Kotrimoksazol

Pencegahan dengan Kotrimoksazol terbukti sangat efektif pada bayi dan anak dengan infeksi HIV untuk menurunkan kematian yang disebabkan oleh pneumonia berat. PCP saat ini sangat jarang di negara yang memberikan pencegahan secara rutin.

Siapa yang harus memperoleh kotrimoksazol

– Semua anak yang terpapar HIV (anak yang lahir dari ibu dengan infeksi HIV) sejak umur 4-6 minggu (baik merupakan bagian maupun tidak dari program pencegahan transmisi ibu ke anak = prevention of mother-to-child transmission [PMTCT]).

– Setiap anak yang diidentifikasi terinfeksi HIV dengan gejala klinis atau keluhan apapun yang mengarah pada HIV, tanpa memandang umur atau hitung CD4.

Berapa lama pemberian Kotrimoksazol ?

Kotrimoksazol harus diberikan kepada:

– anak yang terpapar HIV ,sampai infeksi HIV benar-benar dapat disingkirkan dan ibunya tidak lagi menyusui

– anak yang terinfeksi HIV terbatas bila ARV tidak tersedia

– Jika diberi ART, Kotrimoksazol hanya boleh dihentikan saat indikator  klinis dan imunologis memastikan perbaikan sistem kekebalan selama 6 bulan atau lebih (lihat juga di bawah). Dengan bukti yang ada, tidak jelas apakah kotrimoksazol dapat terus memberikan perlindungan setelah perbaikan kekebalan.

Keadaan yang mengharuskan dihentikannya Kotrimoksazol:

– Terdapat reaksi kulit yang berat seperti Sindrom Stevens Johnson, insufisiensi ginjal atau hati atau keracunan hematologis yang berat

– Pada anak umur < 18 bulan yang tidak mendapat ASI—yaitu dengan tes virologis HIV DNA atau RNA yang negatif.

– Pada anak yang terpajan HIV, hanya setelah dipastikan tidak ada infeksi HIV

– Pada anak umur < 18 bulan yang terpajan HIV dan mendapat ASI. Tes virologis negatif dapat dipercaya hanya jika dilaksanakan 6 minggu setelah anak disapih.

– Pada anak umur > 18 bulan yang terpajan HIV dan mendapat ASI – tes antibodi HIV negatif setelah disapih selama 6 minggu.

– Pada anak yang terinfeksi HIV

– jika anak mendapat ART, kotrimoksazol dapat dihentikan hanya jika terdapat bukti perbaikan sistem kekebalan. Melanjutkan pemberian Kotrimoksazol memberikan keuntungan bahkan setelah terjadi perbaikan klinis pada anak.

– Jika ART tidak tersedia, pemberian kotrimoksazol tidak boleh dihentikan.

Bagaimana dosis pemberian Kotrimoksazol?

– Dosis yang direkomendasikan 6–8 mg/kgBB Trimetoprim sekali dalam sehari. Bagi anak umur < 6 bulan, beri 1 tablet pediatrik (atau ¼ tablet dewasa, 20 mg Trimetoprim/100 mg sulfametoksazol); bagi anak umur 6 bulan sampai 5 tahun beri 2 tablet pediatrik (atau ½ tablet dewasa); dan bagi anak umur 6-14 tahun, 1 tablet dewasa dan bila > 14 tahun digunakan 1 tablet dewasa forte.

– Jika anak alergi terhadap Kotrimoksazol, alternatif terbaik adalah memberi Dapson.